Mahasiswa Fakultas Pertanian – Unwahas dibekali kompetensi Sistem Integrated Farming di Maknum Farm
Penguatan kompetensi mahasiswa faperta melalui program PKL dengan tema integrated farming di Maknun Farm, Wonolopo, Mijen, Kota Semarang, berpotensi besar untuk mengembangkan kompetensi teknis dan soft skills mahasiswa, sekaligus menanamkan nilai keberlanjutan pertanian. Berbagai studi menunjukkan bahwa magang intensif di lahan pertanian kampus dan program Work Integrated Learning (WIL) di sektor pertanian meningkatkan keterampilan agronomis, kemampuan interpersonal, kepemimpinan, serta kesiapan karier lulusan. Praktik pembelajaran partisipatif di pertanian berkelanjutan juga terbukti memperkuat pemahaman sistemik, kreativitas, dan stewardship lingkungan. PKL integrated farming menekankan pembelajaran berbasis pengalaman, pemantauan berkelanjutan, serta umpan balik reflektif. Pemantauan pelaksanaan PKL dengan skema monitoring memadukan observasi lapangan, jurnal refleksi, instrumen penilaian kompetensi, dan pemanfaatan platform digital untuk komunikasi dan pelaporan. Sistem monitoring dapat menjadi rujukan bagi program studi dalam meningkatkan kualitas PKL pertanian terpadu dan memastikan capaian kompetensi mahasiswa serta relevansi dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Dokumentasi: Integrasi Hidroponik dengan kolam ikan lele.
PKL merupakan komponen kurikulum yang krusial untuk menjembatani pembelajaran teoritis di kampus dengan praktik nyata di lapangan, khususnya pada bidang pertanian. Dalam konteks pertanian berkelanjutan, sistem integrated farming—yang menggabungkan tanaman, ternak, dan sering kali perikanan, energi terbarukan, serta pengelolaan limbah secara sirkular—dipandang sebagai pendekatan strategis untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesehatan agroekosistem (El-Gabry & Jaskolski, 2024; Padath, 2025; Bakker et al., 2021; Kamal et al., 2025).

“Praktik Kerja Lapangan di Maknun Farm meliputi usaha peternakan, yaitu ternak domba ekor tipis dan Moreno, usahatani hidroponik pakcoy dan selada, serta hortikultura dan usaha perikanan, yaitu budidaya lele. PKL terbukti tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga memupuk kemampuan kerja tim, komunikasi, pemecahan masalah, dan rasa percaya diri mahasiswa,” tambah Dewi Hastuti. S.Pt., M.P (selaku Dosen Pembimbing). Selain itu, adanya integrasi riset dan WIL di bidang pertanian menegaskan pentingnya kemitraan universitas–industri untuk memastikan lulusan Fakultas Pertanian Unwahas siap menghadapi kompleksitas sistem pangan dan tantangan keberlanjutan.
Komponen Utama Monitoring PKL Integrated Farming
- Kompetensi teknis agroekosistem terpadu, fokus monitoring pada budidaya tanaman, ternak, pakan hijauan, daur ulang limbah, serta energi terbarukan
- Kompetensi keberlanjutan & sistemik, fokus monitoring pada sistem thinking, stewardship lingkungan, dan perencanaan jangka panjang
- Soft skills & kesiapan karier, fokus monitoring pada komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, dan manajemen proyek
- Partisipasi & pembelajaran partisipatif, fokus monitoring pada keterlibatan dalam pengambilan keputusan, dan desain kegiatan
Monitoring digital & komunikasi, fokus monitoring pada pelaporan harian, berbagi foto/video, serta diskusi masalah teknis










