[Semarang, 11 Februari] – Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap mahasiswa yang tengah menjalani Praktik Kerja Lapang (PKL) di kawasan Agrowisata Petik Buah Jambu Kristal dan Jeruk Pamelo, [Agro Purwosari, Mijen, Kota Semarang]. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan sinkronisasi antara teori akademik di kampus dengan implementasi teknis di lapangan.

Dalam kunjungan tersebut, tim dosen pembimbing melihat langsung aktivitas mahasiswa yang terlibat aktif dalam manajemen pemeliharaan tanaman, teknik pembuahan di luar musim (off-season), hingga strategi pemasaran berbasis agrowisata.

Fokus Utama Monitoring

Kegiatan monitoring kali ini menitikberatkan pada beberapa aspek krusial:

  • Teknik Budidaya: Mahasiswa mempraktikkan langsung teknik pemangkasan (pruning) dan pembungkusan buah untuk menjaga kualitas Jambu Kristal dari serangan hama.
  • Pengembangan Agrowisata: Mempelajari manajemen customer journey dalam wisata petik buah, mulai dari edukasi pertanian bagi pengunjung hingga pengemasan produk.
  • Adaptasi Varietas: Observasi khusus pada budidaya Jeruk Pamelo yang memiliki karakteristik perawatan unik dan nilai ekonomi tinggi di pasar lokal.

Sinergi Akademisi dan Praktisi

Dekan Fakultas Pertanian , Dr. Rossi Prabowo, menyampaikan bahwa pemilihan lokasi agrowisata ini sangat strategis. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya mahir secara agronomis, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan. Di sini, mereka belajar bagaimana sebuah komoditas pertanian dikelola menjadi daya tarik wisata yang bernilai tambah,” ujarnya.

Dalam monitoring ini, mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai nilai komersial kedua komoditas tersebut yang kian menjanjikan:

  • Jambu Kristal: Menjadi primadona karena sifatnya yang non-seasonal (berbuah sepanjang tahun). Dengan harga pasar yang stabil di kisaran Rp15.000 – Rp25.000 per kilogram, Jambu Kristal menawarkan cash flow harian yang sehat bagi petani. Teksturnya yang renyah dan biji yang sangat sedikit membuatnya memiliki segmentasi pasar yang luas, mulai dari pasar tradisional hingga supermarket modern.
  • Jeruk Pamelo: Dikenal sebagai “Jeruk Besar”, komoditas ini memiliki nilai ekonomi tinggi terutama pada momen hari besar keagamaan atau festival budaya. Satu buah Jeruk Pamelo kualitas unggul dapat mencapai harga Rp30.000 hingga Rp50.000. Daya simpan buah yang lama (bisa mencapai 1 bulan tanpa bahan pengawet) memberikan keuntungan logistik yang besar bagi petani karena minimnya risiko kerusakan barang (losses).

“Melalui model Agrowisata, nilai ekonomi ini meningkat hingga dua kali lipat. Mahasiswa belajar bahwa keuntungan tidak hanya datang dari penjualan buah per kilogram, tetapi juga dari tiket masuk edukasi dan pengalaman (experience) yang dibeli oleh wisatawan,” tambah Dewi Hastuti, S.Pt., M.P. selaku dosen pembimbing.

Pihak pengelola Agrowisata Agropurwosari juga memberikan apresiasi positif terhadap kinerja mahasiswa. Mereka dinilai mampu memberikan inovasi, terutama dalam hal pencatatan data pertanian digital dan digital marketing untuk mempromosikan wisata petik buah tersebut

Sesuai dengan kurikulum pembelajaran Program Studi S1 Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim Semarang yang ditawarkan pada Semester 5 (lima), maka mahasiswa angkatan 2023 melakukan PKL. Kegiatan PKL dilaksanakan pada masa liburan antar semester. Salah satu tim mahasiswa, terdiri dari 5 (lima) mahasiswa, berkegiatan di Unit KBH Karanggeneng Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Wilayah Semarang. Unit KBH Karanggeneng, yang berada di bawah naungan Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBTPH) Wilayah Semarang, merupakan jantung produksi benih unggul bagi petani di wilayah sekitar. Kegiatan monitoring ini bertujuan untuk memastikan seluruh proses budidaya, mulai dari pemeliharaan tanaman induk hingga fase pascapanen, berjalan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat.

Tujuan dari matkul PKL yang berbobot 2 SKS ini diantaranya: Melatih mahasiswa untuk mendapatkan ketrampilan dan pengalaman praktek, melibatkan mahasiswa secara langsung dalam kegiatan pertanian sehari-hari, untuk mengembangkan kepekaan yang bernalar terhadap berbagai persoalan yang dihadapi dalam praktek serta memberikan bekal dan pengenalan praktek kepada mahasiswa untuk bekerja dalam masyarakat.

Fokus Utama Monitoring

Kegiatan yang berlangsung secara berkala ini mencakup beberapa aspek krusial, antara lain:

  • Kesehatan Tanaman: Deteksi dini terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) guna meminimalisir risiko gagal panen.
  • Kualitas Media Tanam: Pengecekan nutrisi dan hidrasi pada lahan serta polybag di area pembibitan.
  • Administrasi Perbenihan: Verifikasi data stok dan label benih untuk menjamin ketertelusuran (traceability) produk bagi konsumen.

Shofia Nur Awami, S.P., M.Sc., selaku DPL, menekankan pentingnya akurasi data dalam monitoring. “Monitoring bukan sekadar melihat fisik tanaman, tetapi memastikan bahwa setiap benih yang keluar dari KBH Karanggeneng memiliki sertifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara agronomis maupun ekonomis,” ujarnya.

Dampak bagi Sektor Pertanian

Dengan monitoring yang terjadwal, Unit KBH Karanggeneng diharapkan mampu mempertahankan posisinya sebagai penyedia benih hortikultura yang andal. Langkah ini juga menjadi bentuk sinergi antara akademisi dan instansi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan melalui penyediaan benih yang berkualitas tinggi.

Keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan ini juga memberikan pengalaman praktis mengenai manajemen lapangan dan tantangan nyata di sektor perbenihan nasional.

Kelima mahasiswa, yang berkegiatan PKL di Unit KBH Karanggeneng yaitu: Inayatul Amanah, Naela Dwi Aryani, Endayani, Amanah Nur Hamidah dan Danysa Zuliana Azahro. PKL dilaksanakan mulai 19 Januari sampai 21 Februari 2026.

Muhklasin selaku Pimpinan Kebun menyampaikan bahwa “Tim mahasiswa Unwahas sudah memenuhi dan melaksanakan kegiatan sesuai arahan dari pembimbing lapangan setempat. Telah bekerja dengan baik, dan hadir tepat waktu sesuai dengan peraturan kebun, Saya selaku perwakilan KBH Karanggeneng sangat berterimakasih menjadi salah satu tempat PKL bagi mahasiswa Faperta Unwahas, serta kedepannya masih terjalin kerjasama dengan Fakultas Pertanian. Karena beberapa angkatan dari Fakultas Pertanian sebelumnya juga melaksanakan PKL bahkan ada mahasiswa yang melanjutkan penelitian di KBH tersebut.